Ilustrasi 

Penawaran pesawat hibrida F-22 dan F-35 dari Lockheed Martin AS untuk kerjasama pengembangan jet tempur baru Jepang untuk menggantikan pesawat F-2 Jepang akan menelan biaya sebesar US $ 178 juta per unit.
Hal ini menyebabkan keraguan dalam hal efektivitas biaya pada proposal pengembangan Lockheed Martin, media Yomiuri Shimbun melaporkan Selasa (17/07).
Sekitar 90 pesawat tempur F-2 yang sekarang dioperasikan Jepang akan mulai pensiun pada tahun 2030. Karena dibutuhkan 10 tahun untuk mengembangkan pesawat tempur, Kementerian Pertahanan Jepang bermaksud untuk menetapkan kebijakan pengembangan yang kongkret pada akhir tahun ini sehingga dapat dimasukkan dalam rencana pengembangan kemampuan pertahanan jangka menengah.
Jepang bermaksud untuk mengembangkan pesawat stealth berkinerja tinggi dengan peralatan elektronik F-35 yang berbasis pada pesawat tempur F-22. Di antara para pesaing lainnya, Boeing telah menawarkan teknologi F-15, sementara BAE Systems Inggris menawarkan penggunaan teknologi dari pesawat tempur "Typhoon".
Dalam tiga rencana tersebut, draft Lockheed menjadi penawaran yang favorit karena adanya kinerja stealth dan penerbangannya, dan Kementerian Pertahanan Jepang tengah menjalankan tahap pengumpulan informasi. Namun, menurut proposal resmi dari Lockheed pada tanggal 13 Juli, harga per pesawat lebih dari 20 miliar yen ($ 178 juta), yangh lebih tinggi dari perkiraan oleh Kementerian Pertahanan Jepang,yaitu 15 miliar yen ($ 133 juta), sedangkan harga F-35 sekitar adalah sekitar 13,1 miliar yen ($ 116,5 juta). Perkiraan harga proposal Lockheed Martin secara signifikan dinilai lebih tinggi. (Angga Saja - TSM)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Populer Post

Pages